SEDIKIT MENGULAS AGAMA TAO DENGAN KELENTENG2


SEDIKIT MENGULAS AGAMA TAO DENGAN KELENTENG2
( Terjemahan Qian Dao Ri Bao Tgl 18 april 2011 )

Di kota-kota besar dan kecil di seluruh nusantara biasanya pasti terdapat bangunan2 kelenteng ala tiongkok kuno, beberapa ratus tahun bertahan sampai sekarang, boleh dikatakan lama sejarahnya dan tak henti-hentinya yang sembahyang.
Yang di puja dalam kelenteng2 semua adalah Dewa-Dewi Agama Tao, misalnya: Makco, Kongco, Kwan Ti Ya, Hian Dian Sang Ti, Fu Tek Cen Sen, Jing Sui Cu Se, dll. Hanya di pandang dari sudut ini saja sudah membuktikan bahwa Agama Tao sudah lama berakar di sini itu adalah kenyataan.
Dalam tiap2 kelenteng tersedia patung Dewa-Dewi, sang raja-pun bersujud dan menghormatinya. Mengapa tiap kelenteng bisa menarik banyak umat berdatangan untuk sembah sujud? Boleh di kata sangat unik, apakah ada sesuatu kekuatan gaibnya?
Yang lalu tiap ada hari raya atau tahun baru, masing2 kelenteng pasti mengadakan upacara2 keramaian, misalnya: liang liong, barongsai, potehi, dan extra show naik gunung pisau, melewati bara api, mandi minyak panas, makan api, potong lidah, tusuk jarum, dll; sehingga mengundang banyak pengunjung untuk menontonnya; lama2 mulailah timbul pandangan yang salah paham, anggap Agama Tao itu aneh2, padahal semua pertunjukan yang ditonjolkan itu hanyalah sebagian kecil dari ilmu atraksi Agama Tao belaka. Di jaman yang modern sekarang ini, atraksi2 tersebut sudah banyak yang tidak cocok lagi untuk masa kini.
Agama Tao sendiri mempunyai teori dan sistem yang sangat mendalam. Mencakup hidup, alami, im yang, dll. Dari pribadi sampai jagad raya pun termasuk didalamnya. Hanya sangat disayangkan jarang ada orang yang meneliti dan mengembangkannya.
Ilmu2 yang diturunkan Agama Tao, misalnya: ilmu kesehatan, ilmu latih diri, dll Kebanyakan dijadikan pusaka oleh masing2 aliran, dari kuno jarang diumumkan. Kebanyakan pilih2 murid diajarkan secara pribadi empat mata. Banyak buku2 kitab suci juga sukar dimengerti keunikannya. Ada kata: “ribuan kilometer cari guru yang bijak, milyaran kilometer cari rahasia kuncinya” itu yang tidak gampang.
Di Indonesia, Taoyingsuk-nya Agama Tao juga merupakan ilmu kesehatan, setelah dijabarkan oleh Li Sefu, maka yang belajar sudah banyak di seluruh nusantara. Mencakup pelajar, mahasiswa, pedagang, dan lainnya. Mereka sangat antusias meneliti “apa benda2 yang tidak berwujud di belakang yang wujud”. Mereka juga mengerti hidup indah itu harus dijamin oleh fisik dan mental yang memadai.
Dalam Tao mereka belajar apa ya? Dikata sangat sederhana, yaitu belajar Li, Fak, dan Siulian.
“Wu” apa sih? Yaitu wu dian, wu ti, wu ren sen. Mereka adalah sekelompok orang yang berpengaruh baik bagi keluarga, masyarakat, suku bangsa dan negara.
Di Indonesia karena yang belajar Tao semakin bertambah, sampai tahun 2000 baru didirikan organisasi PUTI (Paguyuban Umat Tao Indonesia) oleh beberapa taoyu di jakarta, rencana kerja diterapkan, sehingga dapat perhatian masyarakat, dalam 10 tahun PUTI sudah berkembang hingga 15 propinsi yang ada cabangnya.
Umat2 di daerah selalu mengikuti ajaran2 yang di anut; yaitu: tulus dan sopan, rajin hemat tidak kikir, mensucikan bathin, dan bersihkan diri. Mereka mengejar kesempurnaan hidup dan keluarga, mengharmoniskan masyarakat, sebisa mungkin meneruskan dan menjabarkan kebudayaan dan adat istiadat dalam Tao, dengan figur yang baru mengikuti kegiatan2 yang ada.
Selama ini di bawah syarat2 yang minim mereka maju pesat, yang diandalkan hanya keuletan, cita-cita dan pandangan yang sama. Apalagi bagi taoyu2 yang sedang kuliah atau yang baru lulus universitas, semangatnya lebih membaja.
Sedikit hasil langkah pertama bukan apa2, jalan bahagia yang harus dikejar masih panjang. Maka, harus lebih giat lagi, ini adalah dimensi yang tidak ada henti2nya. Harus berkembang terus selesaikan tugas, demi penjabaran Tao.
Perkumpulan Tri Dharma di dunia, sebetulnya adalah berintikan Agama Tao, merupakan satu atap nya Agama Tao, Budha, dan Kong Hu Cu. Maka tidak heran tiap kelenteng tebal sekali nuansa Tao-nya. Di Indonesia pun tidak terkecuali, kelenteng2 di kota besar kecil terdapat banyak patung2 Dewa-Dewi Agama Tao, dan banyak yang berapa ratus tahun sejarahnya.
Taoyu2 yang belajar Tao selain mengadakan kegiatan2 dalam Taokwan-nya sendiri, juga sering berombongan sembahyang ke lain2 kelenteng Tri Dharma. Sambil mengenalkan Tao pada generasi yang lebih muda.
Di Indonesia, struktur masing2 kelenteng juga sangat unik. Yaitu saling tidak menguasai, saling tidak intervensi, saling menghormati, berdikari, dan hubungan persaudaraan baik.
Dikarenakan pengurus2 banyak yang dari golongan dagang dan usahawan2, maka peraturan2nya lebih longgar. Pemikirannya juga lebih maju, kegiatan2 kebanyakan semarak dalam amal sosial, dan mengangkat kemiskinan.

Oleh: Cin Tik
repost from Lie Ping Sen in Facebook group TAO INDONESIA

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: